MAKALAH BUNUH DIRI

Posted by edy riyawan Posted on Minggu, April 14, 2013 with 1 comment

MAKALAH KEGAWATDARURATAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BUNUH DIRI


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental.
Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah :
(1)   suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa.
(2)   Faktor – faktor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien.
(3)   Pengkajian suicideseharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya.
(4)   Hubungan saling percaya antara perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues perilaku pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting dalam menurunkan angka suicide di rumah sakit.
Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai faktor resiko terjadinya bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan pendekatan proses keperawatanya.
  
  1. Tujuan
1.             Dapat mengetahui pengertian bunuh diri
2.             Dapat mengetahui Penyebab bunuh diri
3.             Dapat mengetahui Motif bunuh diri
4.             Dapat mengetahui Asuhan keperawatan secara umum bunuh diri

  
  
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian
Bunuh diri: Segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibatnya, yang dilakukan dalam waktu singkat.
Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress. Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
(1)   Suicidal ideation, pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati.
(2)   Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri.
(3)   Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam  bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
(4)   Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
(5)   Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
2.      Penyebab Bunuh diri
2.1  Faktor genetic dan teori biologi
Faktor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
2.2  Teori Sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social), atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
2.3  Teori Psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
2.4  Penyebab lain
(1)   Adanya harapan untuk reuni dan fantasy
(2)   Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidak berdayaan
(3)   Tangisan untuk minta bantuan
(4)   Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik
3.       Motif bunuh diri
Pada dasarnya, segala sesuatu itu memiliki hubungan sebab akibat (ini adalah sistematika). Dalam hubungan sebab akibat ini akan menghasilkan suatu alasan atau sebab tindakan yang disebut motif.
Motif bunuh diri ada banyak macamnya. Disini penyusun menggolongkan dalam kategori sebab, misalkan :
(1)      Dilanda keputusasaan dan depresi
(2)      Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.
(3)      Gangguan kejiwaan / tidak waras (gila).
(4)      Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta / Iman / Ilmu)
(5)      Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.

4.      Pengkajian Resiko Bunuh Diri
Sebagai perawat perlu mempertimbangkan pasien memiliki resiko apabila menunjukkan perilaku sebagai berikut :
(1)   Menyatakan pikiran, harapan dan perencanaan tentang bunuh diri
(2)   Memiliki riwayat satu kali atau lebih melakukan percobaan bunuh diri.
(3)   Memilki keluarga yang memiliki riwayat bunuh diri.
(4)   Mengalami depresi, cemas dan perasaan putus asa.
(5)   Memiliki ganguan jiwa kronik atau riwayat penyakit mental
(6)   Mengalami penyalahunaan NAPZA terutama alkohol
(7)   Menderita penyakit fisik yang prognosisnya kurang baik
(8)   Menunjukkan impulsivitas dan agressif
(9)   Sedang mengalami kehilangan yang cukup significant atau kehilangan yang bertubi-tubi dan secara bersamaan
(10)      Mempunyai akses terkait metode untuk melakukan bunuh diri misal pistol, obat, racun.
(11)      Merasa ambivalen tentang pengobatan dan tidak kooperatif dengan pengobatan
(12)      Merasa kesepian dan kurangnya dukungan sosial.
Banyak instrument yang bisa dipakai untuk menentukan resiko klien melakukan bunuh diri diantaranya dengan SAD PERSONS

NO
SAD PERSONS
Keterangan
1
Sex (jenis kelamin)
Laki laki lebih komit melakukan suicide 3 kali lebih tinggi dibanding wanita, meskipun wanita lebih sering 3 kali dibanding laki laki melakukan percobaan bunuh diri
2
Age ( umur)
Kelompok resiko tinggi : umur 19 tahun atau lebih muda, 45 tahun atau lebih tua dan khususnya umur 65 tahun lebih.
3
Depression
35 – 79% oran yang melakukan bunuh diri mengalami sindrome depresi.
4
Previous attempts (Percobaan sebelumnya)
65- 70% orang yang melakukan bunuh diri sudah pernah melakukan percobaan sebelumnya
5
ETOH ( alkohol)
65 % orang yang suicide adalah orang menyalahnugunakan alkohol
6
Rational thinking Loss ( Kehilangan berpikir rasional)
Orang skizofrenia dan dementia lebih sering melakukan bunuh diri disbanding general populasi
7
Sosial support lacking ( Kurang dukungan social)
Orang yang melakukan bunuh diri biasanya kurannya dukungan dari teman dan saudara, pekerjaan yang bermakna serta dukungan spiritual keagaamaan
8
Organized plan (perencanaan yang teroranisasi)
Adanya perencanaan yang spesifik terhadap bunuh diri merupakan resiko tinggi
9
No spouse ( Tidak memiliki pasangan)
Orang duda, janda, single adalah lebih rentang disbanding menikah
10
Sickness
Orang berpenyakit kronik dan terminal beresiko tinggi melakukan bunuh diri.

Hal – hal yang harus diperhatikan dalam melakukan anamnesa adalah :
(1)   Tentukan tujuan secara jelas.
Dalam melakukan anamnesa, perawat tidak melakukan diskusi secara acak, namun demikian perawat perlu melakukannya anamnesa yang fokus pada investigasi depresi dan pikiran yang berhubungan dengan bunuh diri.
(2)   Perhatikan signal / tanda yang tidak disampaikan namun mampu diobservasi dari komunikasi non verbal.
Hal ini perawat tetap memperhatikan indikasi terhadap kecemasan dan distress yang berat serta topic dan ekspresi dari diri klien yang di hindari atau diabaikan.
(3)   Kenali diri sendiri.
Monitor dan kenali reaksi diri dalam merespon klien, karena hal ini akan mempengaruhi penilaian profesional.
(4)   Jangan terlalu tergesa – gesa dalam melakukan anamnesa. Hal ini perlu membangun hubungan terapeutik yang saling percaya antara perawat dan klien.
(5)   Jangan membuat asumsi
Jangan membuat asumsi tentang pengalaman masa lalu individu mempengaruhi emosional klien.
(6)   Jangan menghakimi, karena apabila membiarkan penilaian pribadi akan membuat kabur penilaian profesional.

Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian :
(1)   Riwayat masa lalu :
   ü  Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri
   ü  Riwayat keluarga terhadap bunuh diri
   ü  Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAPZA dan skizofrenia
   ü  Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik.
   ü  Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline, paranoid, antisosial
   ü  Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka
(2)   Symptom yang menyertainya
Apakah klien mengalami :
   ü  Ide bunuh diri
   ü  Ancaman bunh diri
   ü  Percobaan bunuh diri
   ü  Sindrome mencederai diri sendiri yang disengaja
Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan, ketidakberdayaan dan anhedonia dimana hal ini merupakan faktor krusial terkait dengan resiko bunuh diri.
Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk membunuh diri mereka sendiri. Perlu dilakukan penkajian lebih mendalam lagi diantaranya :
   ü  Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan
   ü  Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau perencanaan untuk melakukan aksinya yang sesuai dengan rencananya.
   ü  Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk merencanakan dan mengagas akan suicide
   ü  Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu diakses oleh klien.
Hal – hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian tentang riwayat kesehatan mental klien yang mengalami resiko bunuh diri :
   ü  Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik
   ü  Memilih tempat yang tenang dan menjaga privacy klien
   ü  Mempertahankan ketenangan, suara yang tidak mengancam dan mendorong komunikasi terbuka.
   ü  Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata – kata yang dimengerti klien
   ü  Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat pengobatannya
   ü  Mendaptakan data tentang demografi dan social ekonomi
   ü  Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan
   ü  Peroleh riwayat penyakit fisik klien
  
5.      Diagnosa Keperawatan
5.1  Resiko Bunuh diri
Pengertian : Resiko untuk mencederai diri yang mengancam kehidupan
Tujuan : Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri
Kriteria Hasil :
     ü  Menyatakan harapannya untuk hidup
     ü  Menyatakan perasaan marah, kesepian dan keputusasaan secara asertif.
     ü  Mengidentifikasi orang lain sebagai sumber dukungan bila pikiran bunuh diri muncul.
     ü  Mengidentifikasi alaternatif mekanisme coping

Aktivitas keperawatan secara umum :
(1)   Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri, dengan cara :
  ü  Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
  ü  Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.
(2) Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi;
ü  Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
ü  Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda yang dapat membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
ü  Membuat kontrak baik lisan maupun tertulis dengan perawat untuk tidak melakukan tindakan yang mencederai diri Misalnya : ”Saya tidak akan mencederai diri saya selama di RS dan apabila muncul ide untuk mencederai diri akan bercerita terhadap perawat.”
ü  Makanan seharusnya diberikan pada area yang mampu disupervisi dengan catatan :
o   Yakinkan intake makanan dan cairan adekuat
o   Gunakan piring plastik atau kardus bila memungkinkan.
Cek dan yakinkan kalau semua barang yang digunakan pasien kembali pada tempatnya.
Ketika memberikan obat oral, cek dan yakinkan bahwa semua obat diminum.
ü  Rancang anggota tim perawat untuk memonitor secara kontinyu.
ü  Batasi orang dalam ruangan klien dan perlu adanya penurunan stimuli.
ü  Instruksikan pengunjung untuk membantasi barang bawaan ( yakinkan untuk tidak memberikan makanan dalam tas plastic)
ü  Pasien yang masih akut diharuskan untuk selalu memakai pakaian rumah sakit.
ü  Melakukan seklusi dan restrain bagi pasien bila sangat diperlukan
ü  Ketika pasien sedang diobservasi, seharusnya tidak menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya. Perlu diidentifikasi keperawatan lintas budaya.
ü  Individu yang memiliki resiko tinggi mencederai diri bahkan bunuh diri perlu adanya komunikasi oral dan tertulis pada semua staf.
(3)   Membantu meningkatkan harga diri klien
    ü  Tidak menghakimi dan empati
    ü  Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
    ü  Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
    ü            Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah
    ü  Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
(4)    Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
  ü   Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat
  ü   Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
  ü   Dorong klien untuk melakukan aktivitas social.
(5). Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
  ü   Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
  ü   Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
  ü   Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi ‘ apa yang terjadi sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
  ü   Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
  ü   Explorasi perilaku alternative
  ü   Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
  ü   Bantu klien untuk mengidentifikasi pola piker yang negative dan mengarahkan secara langsung untuk merubahnya yang rasional.

(6). Initiate Health Teaching dan rujukan, jika diindikasikan
  ü   Memberikan pembelajaran yan menyiapkan orang mengatasi stress (relaxation, problem-solving skills).
  ü   Mengajari keluarga technique limit setting
  ü   Mengajari keluarga ekspresi perasaan yang konstruktif
  ü   Intruksikan keluarga dan orang lain untuk mengetahui peningkatan resiko : perubahan perilaku, komunikasi verbal dan nonverbal, menarik diri, tanda depresi.


BAB III

1.1  Kesimpulan
Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibatnya, yang dilakukan dalam waktu singkat.
Penyebab bunuh diri :
5.2   Faktor genetic dan teori biologi
5.3  Teori Sosiologi
5.4  Teori Psikologi
5.5  Penyebab lain :
1.      Adanya harapan untuk reuni dan fantasy
2.      Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan
3.      Tangisan untuk minta bantuan
4.      Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Motif bunuh diri ada banyak macamnya. Disini penyusun menggolongkan dalam kategori sebab, misalkan :
1.     Dilanda keputusasaan dan depresi
2.    Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.
3.    Gangguan kejiwaan / tidak waras (gila).
4.    Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta / Iman / Ilmu)
5.    Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.

1.2  Saran
Tindakan bunuh diri adalah suatu tindakan yang bodoh karena tindakan ini bertentangan dengan norma yang ada di masarakat serta  agama. Bunuh diri jangan dijadikan pilihan terahir dalam pemecahan masalah karena masih banyak jalan yang bisa kita tempuh dalam memecahkan masalah,  jika kita memiliki sebuah masalah dan kita tidak mampu untuk menyelesaikannya kita bisa minta bantuan kepada sahabat atau orang-orang yang ada didekat kita.  

1 komentar:

Anda Memasuki Kawasan Blog Defollow...
Kritik & Saran dianjurkan disini.
Pringatan! di larang marah - marah di pos komentar ini dan tolong jangan jualan obat kuat disini.
Terimakasih :)
Untuk Informasi Lebih Lanjut - Hub. Pak RT

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Sponsors : Hangup Circle | Customize Blogger Template | Best Blogger Themes
Copyright © 2013. Blog Riyawan - All Rights Reserved
Template Design by Razor Madush | Published by New Blog Themes
Powered by Blogger
New Blogger Themes New Blogger Themes